Tanggal 20 Juni 2016 merupakan saat-saat yang paling mendebarkan bagi warga yang lahannya akan digunakan sebagai lokasi bandara baru di Kulon Progo. Pada tanggal tersebut besaran ganti rugi/ kompensasi rencananya akan diumumkan. Faktor harga inilah yang menjadi tolok ukur utama apakah warga akan menerima atau keberatan. Respon masyarakat tentu sangat beragam.
Bagi warga yang berfikir progresif momentum ini sangat krusial. Dengan mengetahui besaran kompensasi kita dapat membat perencanaan keuangan yang aktual dan faktual. Kita harus bisa membuat rencana keuangan yang matang. Dana kompensasi harus habis dalam perencanaan baik untuk pembelian aset, pengembangan usaha, biaya pendidikan, tabungan dan investasi yang aman.
Bagi saya sendiri dana kompensasi harus dipahami sebagai "dana investasi" yang dikembalikan sepenuhnya kepada kita dalam bentuk uang tunai. Artinya, kita harus segera mengembalikan dana tersebut semaksimal mungkin menjadi aset atau properti. Bagi saya kepemilikan aset ini menjadi tolok ukur utama keberdayaan masyarakat. Semakin besar aset yang dimiliki, kita akan semakin berdaya dan akan mampu berperan lebih besar di kemudian hari. Aset properti menjadi instrumen investasi yang sangat aman dan menguntungkan. Betapa tidak, seiring progres proyek bandara nilai aset ini dapat berlipat secara fantastis.Aset properti juga menjadi back up modal untuk menangkap peluang dan mendongkrak usaka kita di masa depan.
Bagi kami perlipatan nilai aset properti ini harus bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin. "Konsepsi tanah gratis, rumah gratis atau mobil gratis" tidak mungkin diberikan oleh pemerintah atau investor tetapi hal tersebut dapat kita peroleh jika kita mampu memanfaatkan momentum perlipatan nilai aset properti yang fantastis tersebut. Sebagai contoh nyata saat ini kita bisa memperoleh tanah seluas 1000 meter persegi senilai 100-200 juta rupiah dan bisa kita pecah menjadi 10 kavling. Jika proyek bandara sudah selesai dan bandara sudah beroperasi aset tersebut bisa menjadi 400 juta, 600 juta, 800 juta, 1 M, 2 M, atau bahkan 5 M tergantung bagaimana kita 'mengolahnya'. Jika nilai aset 2 kali dan kita menjual 5 kavling maka berarti kita telah memperoleh 5 kavling gratis. Jika nilai aset 5 kali dan kita menjual 2 kavling maka kita peroleh 8 kavling gratis. Perlipatan nilai ini bisa dipercepat jika kita menjualnya dalam bentuk "gambar rumah" seperti yang dilakukan oleh para developer. Bukankah developer itu hanya menjual gambar rumah? Ya itulah yang terjadi. Karena yang bikin rumah nantinya para kontraktor, duitnya milik bank dan yang pinjam adalah konsumen.
Kepemilikan aset ini menjadi back up modal untuk membeli dan membeli lagi aset properti selanjutnya. Selain itu juga menjadi back up modal usaha properti misalnya pengin bikin ruko, kost, perumahan atau apartemen.Atau modal usaha lainnya, misalnya jika ada kantor butuh mobil untuk antar jemput karyawannya kita tinggal ke dealer atau lembaga pembiayaan, agunannya aset dan yang nyicil ya mobil itu sendiri.
Rasanya tak sabar menunggu tanggal 20 Juni. Bagi golongan progresif tanggal tersebut tentu bukan awal untuk eksekusi belanja aset tetapi menjadi momentum akhir pembelian aset gelombang pertama.
Selamat menunggu sambil kusak-kusuk browsing info. Terimakaish.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar